Muktamar NU Desember 2021, Pakar ISNU Usulkan Proliferasi Ajaran Aswaja di Pemerintahan

Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Jawa Timur, Prof M. Mas'ud Said, Ph.D, mengusulkan kepada PBNU untuk memperkuat ajaran Ahulusunnah Wal Jamaah An-Nahdilyah di ranah publik, termasuk di lembaga kenegaraan dan pemerintahan, baik pusat maupun daerah, termasuk di instansi-instansi strategis lainnya.

Hal itu disampaikan Mas’ud Said dalam rapat Komisi Program Kerja Musyawah Nasional (Munas) Alim Ulama  dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama yang dibuka Wakil Presiden Republik Indonesia KH Ma’ruf Amin di Jakarta, Sabtu (25/9/2021). Munas dan Konbes itu diikuti Pengurus Besar, Pengurus Wilayah, Pimpinan Banom dan Lembaga Underbow NU serta alim ulama dan cendekiawan kampus, termasuk ISNU.

Seperti diberitakan BANGSAONLINE.com, Munas Alim Ulama dan Konbes NU berlangsung selama dua hari (25-26/9/2021) di Jakarta. Munas Alim Ulama dan Konbes NU itu memutuskan berbagai rekomendasi penting untuk lima tahun ke depan. Di antaranya Muktamar NU ke-34 yang akan digelar Desember 2021. Dengan syarat protokol kesehatan yang ketat dan kerja sama Satgas Covid-19 Pusat dan Daerah.

Menurut Mas'ud Said, proliferasi atau pengembangan ideologi yang dianggap sebagai salah satu penangkal radikalisme dan pemahaman Islam yang lebih damai dan sejuk itu, harus ditopang dengan kodifikasi ajaran melalui penulisan buku Aswaja yang dapat dipelajari kalangan umum sekaligus bahan pendidikan keagamaan di masyarakat umum.

"Jadi pada saat NU memasuki usia abad kedua, Aswaja yang mengajarkan Islam Wasathiyah dan akhlak keberagamaan yang pas dalam konteks bernegara dan berpemerintahan, sudah bisa menjadi bagian kurikulum pendidikan kenegaraan dan keagamaan dengan memodernisasi lembaga-lembaga pendidikannya," kata tokoh yang telah menyumbangkan pemikiran Peta Jalan NU Menuju Abad Kedua itu.

Cendekiawan profesional yang hadir sebagai Dewan Pakar PP ISNU itu menekankan pentingnya aplikasi mindset atau cara berpikir Aswaja dan akhlak atau cara bertindak Aswaja bagi pengurus dan aktivis NU di jajaran publik pemerintahan, warga NU di kalangan bisnis - korporasi, kader NU di jajaran pimpinan perdagangan dan industri, serta cendekiawan di kampus-kampus.

"Ke depan PB NU bersama ulama dan cendekiawannya seharusnya bisa memimpin dan menguasai mainstream ideologi kenegaraan dan cara keberagamaan yang wasthiyah, membawa keramahan hubungan antar pemeluk agama yang kuat di kancah internasional, terutama pada saat dunia sudah hampir kehilangan keadilan karena ideologi hubungan antar negara dan corak keagamaannya cenderung menimbulkan peperangan antar pemeluk agama," katanya. (tim)